
Ini adalah sekelumit “kisah masa depan”, ketika seluruh manusia
berkumpul di hari kiamat. Kisah ini disampaikan oleh Rasulullah kepada
para sahabatnya. Dalam kisah itu diceritakan bahwa Allah mengumpulkan
seluruh manusia dari yang pertama hingga yang terakhir dalam satu
daratan. Pada hari itu matahari mendekat kepada mereka, dan manusia
ditimpa kesusahan dan penderitaan yang mereka tidak kuasa menahannya.
Lalu di antara mereka ada yang berkata, “Tidakkah kalian lihat apa
yang telah menimpa kita, tidakkah kalian mencari orang yang bisa
memberikan syafa’at kepada Rabb kalian?”
Yang lainnya lalu menimpali, “Bapak kalian adalah Adam AS.”
Akhirnya mereka mendatangi Adam lalu berkata, “Wahai Adam, Anda bapak
manusia, Allah menciptakanmu dengan tangan-Nya, dan meniupkan ruh
kepadamu, dan memerintahkan para malaikat untuk bersujud kepadamu, dan
menempatkanmu di surga. Tidakkah engkau syafa’ti kami kepada Rabb-mu?
Apakah tidak kau saksikan apa yang menimpa kami?”
Maka Adam berkata, “Sesungguhnya Rabbku pada hari ini sedang marah
yang tidak pernah marah seperti ini sebelumnya, dan tidak akan marah
seperti ini sesudahnya, dan sesungguhnya Dia telah melarangku untuk
mendekati pohon (khuldi) tapi aku langgar. Nafsi nafsi (aku mengurusi
diriku sendiri), pergilah kalian kepada selainku, pergilah kepada Nuh
AS.”
Lalu mereka segera pergi menemui Nuh AS dan berkata, “Wahai Nuh,
engkau adalah Rasul pertama yang diutus ke bumi, dan Allah telah
memberikan nama kepadamu seorang hamba yang bersyukur (abdan syakuro),
tidakkah engkau saksikan apa yang menimpa kami, tidakkah engkau lihat
apa yang terjadi pada kami? Tidakkah engkau beri kami syafa’at menghadap
Rabb-mu?”
Maka Nuh berkata, “Sesungguhnya Rabbku pada hari ini marah dengan
kemarahan yang tidak pernah marah seperti ini sebelumnya, dan tidak akan
marah seperti ini sesudahnya. Sesungguhnya aku punya doa, yang telah
aku gunakan untuk mendoakan (celaka) atas kaumku. Nafsi nafsi, pergilah
kepada selainku, pergilah kepada Ibrahim AS!”
Lalu mereka segera menemui Ibrahim dan berkata, “Wahai Ibrahim,
engkau adalah Nabi dan kekasih Allah dari penduduk bumi, syafa’atilah
kami kepada Rabb-mu! Tidakkah kau lihat apa yang menimpa kami?”
Maka Ibrahim berkata, “Sesungguhnya Rabb-ku pada hari ini marah
dengan kemarahan yang tidak pernah marah seperti ini sebelumnya, dan
tidak akan marah seperti ini sesudahnya, dan sesungguhnya aku telah
berbohong tiga kali. Nafsi nafsi, pergilah kalian kepada selainku,
pergilah kalian kepada Musa AS!”
Lalu mereka segera pergi ke Musa, dan berkata, “Wahai Musa, engkau
adalah utusan Allah. Allah telah memberikan kelebihan kepadamu dengan
risalah dan kalam-Nya atas sekalian manusia. Syafa’atilah kami kepada
Rabb-mu! Tidakkah kau lihat apa yang kami alami?”
Lalu Musa berkata, “Sesungguhnya Rabb-ku pada hari ini sedang marah
dengan kemarahan yang tidak pernah marah seperti ini sebelumnya, dan
tidak akan pernah marah seperti ini sesudahnya. Dan sesungguhnya aku
telah membunuh seseorang yang aku tidak diperintahkan untuk membunuhnya.
Nafsi nafsi, pergilah kalian kepada selainku, pergilah kalian kepada
Isa AS!”
Lalu mereka pergi menemui Isa, dan berkata, “Wahai Isa, engkau adalah
utusan Allah dan kalimat-Nya yang dilontarkan kepada Maryam, serta ruh
dari-Nya. Dan engkau telah berbicara kepada manusia semasa dalam
gendongan. Berilah syafa’at kepada kami kepada Rabb-mu! Tidakkah kau
lihat apa yang kami alami?”
Maka Isa berkata, “Sesungguhnya Rabb-ku pada hari ini sedang marah
dengan kemarahan yang tidak pernah marah seperti ini sebelumnya, dan
tidak akan marah seperti ini sesudahnya. Nafsi nafsi, pergilah kepada
selainku, pergilah kepada Muhammad SAW!”
Akhirnya mereka mendatangi Muhammad SAW, dan berkata, “Wahai
Muhammad, engkau adalah utusan Allah dan penutup para nabi. Allah telah
mengampuni dosamu yang lalu maupun yang akan datang. Syafa’atilah kami
kepada Rabb-mu, tidakkah kau lihat apa yang kami alami?”
Lalu Nabi Muhammad SAW pergi menuju bawah ‘Arsy. Di sana beliau
bersujud kepada Rabb, kemudian Allah membukakan kepadanya dari
puji-pujian-Nya, dan indahnya pujian atas-Nya, sesuatu yang tidak pernah
dibukakan kepada seorangpun sebelum Nabi Muhammad. Kemudian Allah SWT
berkata kepada Muhammad, “Wahai Muhammad, angkat kepalamu, mintalah,
niscaya kau diberi, dan berilah syafa’at niscaya akan dikabulkan!”
Maka Muhammad SAW mengangkat kepalanya dan berkata, “Ummatku wahai Rabb-ku, ummatku wahai Rabb-ku, ummatku wahai Rabb-ku!”
Lalu disampaikan dari Allah kepadanya, “Wahai Muhammad, masukkan ke
surga di antara umatmu yang tanpa hisab dari pintu sebelah kanan dari
sekian pintu surga, dan mereka adalah ikut memiliki hak bersama dengan
manusia yang lain pada selain pintu tersebut dari pintu-pintu surga.”
***
Di dalam kisah ini, Rasulullah SAW juga menceritakan bahwa lebar
jarak antara kedua sisi pintu surga itu, bagaikan jarak Makkah dan
Hajar, atau seperti jarah Makkah dan Bushro. Hajar adalah nama kota
besar pusat pemerintahan Bahrain. Sedangkan Bushro adalah kota di Syam.
Bisa kita bayangkan, betapa tebalnya pintu-pintu surga itu..
Itulah sekelumit kisah nyata di masa depan ketika hari kiamat. Pada
hari itu, Rasulullah SAW memberi syafa’at kepada ummatnya. Pada hari itu
Rasulullah SAW menjadi sayyid (tuan)nya manusia. Shalawat dan salam
kepada Rasulullah Muhammad SAW.

Dalam islam, Jumlah bukanlah penentu segala galanya. Betapa banyak,
golongan yang lebih kecil mengalahkan golongan yang lebih besar.
Peristiwa peristiwa sejarah dan kegemilangan islam masa
lampau,menunjukkan betapa umat islam yang berjumlah kecil, bisa
mengalahkan pasukan musuh yang berjumlah lebih besar bahkan jauh
berlipat lipat. Siapa yang menyangsikan kekuatan iman para sahabat ?
Siapa yang menyangsikan kelurusan tauhid dan ketinggian para sahabat
yang mulia ? Rupanya disinialah kuncinya pertolongan ALLAH. Ketika
keimanan sangat tinggi, keyakinan akan pertolongan Allah begitu besar
dan tidak bergantung kepada selain Allah, kekuatan pasukan muslim
menjadi berlipat ganda. Allah menurunkan pasukannya dan menggentarkan
hati hati musuh musuh islam sehingga dapat kita lihat bagaimana di Badar
kaum kafir Qura’is terkalahkan.
Dalam sejarah sejarah islam terdahulu, sungguh kita dapati bagaimana
generasi terbaik umat ini berjuang untuk menegakkan agama islam.
Sebagian besar peperangan yang dilaluinya jumlah pasukan kaum muslimin
lebih kecil dari pada musuh nya. Rupanya para sahabat memang tidak
menganggap bahwa jumlahlah penentu kemenangan. Bahkan dalam perang
hunain, ketika seorang prajuruit merasa akan menang karena jumlah mereka
yang besar, ternyata pasukan islam malah kocar kacir. Terbukti bahwa
jumlah memang bukan penentu.
Bulan jumadil’ awal 8 H, rosulullah memberangkatkan 3000 orang
pasukan ke Syiria. Zaid bin haritsah ditunjuk sebagai panglima perang,
dengan instruksi jika Zaid gugur, penggantinya adalah Ja’far bin Abu
Thalib. Jika Ja’far gugur penggantinya adalah Abdullah bin Rawahah.
Sampai di daearah Ma’an kaum muslim mengetahui bahwa kekuatan musuh
mencapai 200 ribu terdiri dari 100 ribu tentara Romawi dan 100 ribu
orang Nasrani keturunan Arab dari berbagai kabilah. Subhanallah,
bagaimana 3000 orang akan melawan 200.000 pasukan? Logika saja
mengatakan 1 orang harus menghadapi 1 : 60 – 70 Pasukan musuh.
Selama 2 hari kamu muslim bermusyawarah tentang kondisi yang mereka
hadapi. Ada yang mengusulkan agar mereka mengirimkan surat kepada
Rosulullah, mereka berharap rosulullah mengirimkan pasukan tambahan.
Namun Abdullah bin Rawahah tidak setuju dan berseru dengan semangat
menyala “ Wahai manusia, apa yang tidak kalian sukai dalam pertempuran
ini, justru yang selama ini kalian cari yaitu Syahid. Kita berperang
bukan mengandalkan jumlah pasukan, kekuatan dan banyaknya perlengkapan
dan perbekalan. Kita perangi mereka demi agama ini yang karena Allah
memuliakan kita. Karena itu majulah terus dan raih satu dari dua
kebaikan : Menang atau Mati Syahid.” (Ibnu Hisyam III/ 430).
Menggeloralah semangat kaum muslimin akan hal ini. Zaid Bin Haritzah
membawa pasukannya kedaerah yang terkenal dalam sejarah : Mu’tah.
Disinilah pertempuran 3000 pejuang islam melawan 200 ribu pasukan musuh
terjadi. Suasana pertempuran begitu sengit, dan syahidlah Panglima
perang Zaid Bin Haritzah terkena panah pasukan romawi.
Bendera islam dipegang oleh Ja’far bin Abu Thalib. Pahlawan islam
yang baru kembali dari Habasyah ini berperang dengan gagah berani,
sampai tangan kanannya berhasil ditebas musuh. Ketika tangan kanan nya
telah terputus, dipeganglah bendera dengan tangan kiri. Begitu tangan
kirinya putus, ditebas pedang musuh, dikempitlah bendera tersebut dengan
sisa lengannya. Akhirnya pahlawan ini menemui robnya sebagai Syahid
dengan tubuh terbelah dua dan lebih dari 70 luka di tubuhnya.
Bendera dipunguit oleh Tsabit Bin Arqam dan diserahkan kepada Khalid
Bin Walid, yang kala itu belum genap 3 bulan memeluk islam.Khalid pun
menolak dan berkata “ Anda lebih patut memegangnya. Anda lebih tua dan
telah ikut perang Badar” Jawab Khalid Bin Walid. “ Ambillah, hai laki
laki. Demki Allah, aku mengambil bendera ini hanya karena akan kuberikan
kepadamu. Jawab Tsabit.” Akhirnya Pasukan islam yang sedang terdesak
ini dipimpin oleh Khalid Bin Walid. Rupanya khalid Bin Walid memang
sangat ahli dalam strategi perang dan seorang panglima perang yang
sangat brilian baik sebelum apalagi setelah menjadi seorang mukmin.
Diaturlah strategi baru, pasukan yang semula berada di depan dialihkan
kebelakang juga sebailiknya. Demikian juga pasukan Sayap kanan dialihkan
ke kiri dan sebaliknya. Strategi luar biasa ini membuat musuh terkecoh,
mengira pasukan islam mendapat tambahan pasukan. Perlahan lahan,
pasukan islam yang awalnya dalam kondisi terancam bisa diselamatkan.
Diakhir peperangan pasukan islam yang gugur hanya 13 orang. Buku buku
sejarah , Tidak memberikan angka pasti berapa besar jumlah korban dari
pasukan romawi.
Betapa yang kecil tidak selalu terkalahkan dengan yang besar. Dalam
perang Mu’tah ini, banyak sekali ibroh yang bisa diambil, bahwa kekuatan
iman memegang peranan yang begitu besar. Jika kondisi islam saat ini
yang jumlahnya begitu besar saja justru terpuruk,sudah seharusnya kita
merenungkan dan mengambil sebuah pelajaran, mungkinkah kebesaran islam
akan kembali dengan meminta bantuan dari musuh musuh islam yang seolah
olah sangat baik membantu kita ? Mungkinkah kejayaan islam akan kembali
tanpa kita memiliki rasa bangga terhadap islam dan lebih mencintai
system islam daripada system buatan manusia ? Kita lihat, Sejak 1948,
Tel Aviv menjadi ibukota Israel, dengan tangisan ratusan juta umat islam
dan senyum kemenangan Israel dan presiden AS Hennry Truman saat itu,
Tahun 67 Dataran tinggi Golan, Sinai , diambil Israel,tahun 81
pembantaian besar besaran di Kamp pengungsi Sabra & Shatilla dan
beribu permasalahan yang tiada habisnya karena pendudukan Yahudi, Namun
kini sebentar lagi Presiden Palestina Dan Israel akan berunding , duduk
manis dengan Wasit Amerika. Mungkinkah dalam pertandingan sepakbola,
seorang wasit adalah keluarga dari pemain musuh ?
Kini jumlah kita sangat besar saudaraku. Namun dari jumlah yang besar
ini, besar pula pengekor, yang sangat bangga dengan mengikuti budaya
Barat. Dari jumlah yang besar ini, entah berapa banyak yang bangga
dengan agamanya, entah berapa banyak yang ridho dengan syari’at islam,
entah berapa yang banyak yang merindukan Syari’at islam tegak di bumi
ini. Jumlah yang besar sesungguhnya merupakan potensi, tinggal bagaimana
umat ini bersatu dalam dakwah dengan pemahaman yang benar. Manjadikan
Al Qur’an dan sunnah sebagai pedoman. Dengan inilah Allah memberikan
kabar gembira Nasrumminallah wa fatkhunqorib.
Apalagi sauadaraku, dimanapun posisi kita marilah kita menjadi bagian
dalam dakwah untuk meninggikan kalimat Allah..Dikantor, dirumah, lewat
tulisan, lewat perbuatan bahkan jika mampu dengan lisan atau tangan kita
Tidak salah jika seorang penyair mengatakan, umat islam memang sudah
seharusnya ada yang terbang tinggi seperti burung, namun perlu juga ada
yang merayap seperti cacing.

Pada suatu hari, Rasululloh Shollallahu ‘alaihi wa Sallam masuk ke
kebun seorang shohabat Anshor. Di dalam kebun itu ada seekor onta.
Ketika melihat Rasululloh Shollallahu ‘alahi wa Sallam, onta itu
merintih dan mencucurkan air mata. Rasululloh Shollallahu ‘alaihi wa
Sallam mendatangi onta itu. Beliau mengusap punggung dan kedua telinga
onta yang menangis itu. Maka onta itupun diam. Rasululloh Shollallahu
‘alaihi wa Sallam bertanya: “Siapakah pemilik onta ini? Milik siapa onta
ini?”
Maka datanglah seorang pemuda Anshor seraya berkata, “Onta ini
milikku wahai Rasululloh!” Beliau bersabda, yang artinya: “Apakah kamu
tidak takut kepada Alloh, atas hewan yang Alloh kuasakan padamu?
Sesungguhnya onta ini mengadu kepadaku, bahwa engkau telah membuatnya
lapar dan kelelahan.”
Demikianlah nasehat Rasululloh Shollallahu ‘alaihi wa Sallam agar
kita bersikap kasih dan sayang terhadap hewan peliharaan. Jangan terlalu
membebaninya sehingga kelelahan apalagi sampai kelaparan.
Pada suatu hari, Nabi Musa as bermaksud menemui Tuhan di Bukit Sinai.
Mengetahui maksud Musa, seorang yang sangat saleh mendatanginya, “Wahai
Kalimullah, selama hidup saya telah berusaha untuk menjadi orang baik.
Saya melakukan shalat, puasa, haji, dan kewajiban agama lainnya. Untuk
itu, saya banyak sekali menderita. Tetapi tidak apa; saya hanya ingin
tahu apa yang Tuhan persiapkan bagiku nanti. Tolong tanyakan
kepada-Nya!”
“Baik,” kata Musa seraya melanjutkan perjalanannya. Ia berjumpa
dengan seorang pemabuk di pinggir jalan. “Mau ke mana? Tolong tanyakan
pada Tuhan nasibku. Aku peminum, pendosa. Aku tidak pernah shalat,
puasa, atau amal saleh lainnya. Tanyakan kepada Tuhan apa yang
dipersiapkan-Nya untukku.” Musa menyanggupi untuk menyampaikan pesan dia
kepada Tuhan.
Ketika kembali dari Sinai, ia menyampaikan jawaban Tuhan kepada orang
saleh, “Bagimu pahala besar, yang indah-indah.” Orang saleh itu
berkata, “Saya memang sudah menduganya.” Kepada si pemabuk, Musa
berkata, “Tuhan telah mempersiapkan bagimu tempat yang paling buruk.”
Mendengar itu si pemabuk bangkit, dengan riang menari-nari. Musa heran
mengapa ia bergembira dijanjikan tempat yang paling jelek.
“Alhamdulillah. Saya tidak peduli tempat mana yang telah Tuhan
persiapkan bagiku. Aku senang karena Tuhan masih ingat kepadaku. Aku
pendosa yang hina-dina. Aku dikenal Tuhan! Aku kira tidak seorang pun
yang mengenalku,” ucap pemabuk itu dengan kebahagiaan yang tulus.
Akhirnya nasib keduanya di Lauh Mahfuzh berubah. Mereka bertukar tempat.
Orang saleh di neraka dan orang durhaka di surga.
Musa takjub. Ia bertanya kepada Tuhan. Jawaban Tuhan demikian: “Orang
yang pertama, dengan segala amal salehnya, tidak layak memperoleh
anugerah-Ku, karena anugerah-Ku tidak dapat dibeli dengan amal saleh.
Orang yang kedua membuat Aku senang, karena ia senang pada apa pun yang
Aku berikan kepadanya. Kesenangannya kepada pemberian-Ku menyebabkan Aku
senang kepadanya.”
Sandungan pertama dalam perjalanan menuju kesucian adalah ridha
dengan diri sendiri. Kita merasa sudah banyak beramal, dan karena itu
berhak untuk memperoleh segala anugerah Tuhan. Ketika kita mengalami
kesulitan, kita berusaha keras untuk mengatasinya—lahir dan batin, lalu
kita mohon pertolongan Allah. Dengan segala usaha itu, kita merasa
berhak untuk mendapatkan pertolongan-Nya. Tuhan berkewajiban untuk
melayani kita. Ketika yang kita tunggu tidak juga datang, kita marah
kepada-Nya sambil berargumentasi, “Apalagi yang harus aku lakukan? Apa
tidak cukup semua pengorbanan yang telah kuberikan?”
“Janganlah kamu memberi dan menganggap pemberianmu sudah banyak,”
firman Tuhan (Al-Qur’an 74: 6). Janganlah kamu berkata sudah semua kamu
kerjakan. Setiap kali kamu berkata seperti itu, ingatlah, belum banyak
yang kamu kerjakan. Secara lahiriah, merasa telah banyak berbuat membuat
orang putus asa. Karena putus asa, ia tidak mau berbuat lagi. Seluruh
geraknya terhenti. Secara batiniah, merasa telah berbuat banyak
menjatuhkan tirai gelap yang menutup karunia Tuhan. Ia mengandalkan
amalnya dan meremehkan pemberian Tuhan. Pada hakikatnya, ia masih
berkutat dengan dirinya. Ia tidak berjalan menuju Tuhan. Ia
berputar-putar di sekitar egonya. Ia tidak mencari ridha Tuhan. Ia
mengejar ridha dirinya.
Kepuasan akan diri telah banyak membinasakan para salik sepanjang
sejarah. Hal yang sama telah melemahkan semangat para pejuang kebenaran.
Mereka merasa telah berkorban habis-habisan, tetapi hasilnya tidak ada.
Anda dapat menemukan perasaan ini pada orang-orang saleh di sudut
mesjid dan juga pada para demonstran reformis di simpang jalan. Yang
pertama menghapuskan ibadatnya, yang kedua menyia-nyiakan pengorbanan
kawan-kawannya.
Kepada siapa saja di antara Anda yang taat beribadat, bacalah doa ini
setelah shalat Anda: “Tuhanku, ampunan-Mu lebih diharapkan dari amalku.
Kasih-Mu lebih luas dari dosaku. Jika dosaku besar di sisi-Mu,
ampunan-Mu lebih besar dari dosa-dosaku. Jika aku tidak berhak untuk
meraih kasih-Mu, kasih-Mu pantas untuk mencapaiku dan meliputiku, karena
kasih-sayang-Mu meliputi segala sesuatu. Dengan rahmat-Mu, wahai Yang
Paling Pengasih dari segala Yang Mengasihi.”
Kepada siapa saja di antara Anda yang sedang berjuang menegakkan
kebenaran, tetapi Anda sudah letih dan merasa tidak berdaya, bacalah doa
Nabi Muhammad SAW, ketika ia berlindung di kebun Utbah dengan kaki
berlumuran darah, “Ya Allah, kepada-Mu aku adukan kelemahan diriku,
ketidak-berdayaanku, dan kehinaanku di mata manusia. Wahai yang
Mahakasih dan Mahasayang, wahai Tuhan orang-orang yang tertindas. Kepada
tangan siapa akan Kau serahkan daku? Kepada orang jauh yang
memperlakukanku dengan buruk? Atau kepada musuh yang Kau berikan
kepadanya kekuasaan untuk melawanku? Semuanya aku tidak peduli, asalkan
Engkau tidak murka kepadaku. Anugerah-Mu bagiku lebih agung dan lebih
luas. Aku berlindung pada cahaya ridha-Mu, yang menyinari kegelapan.
Janganlah murka-Mu turun kepadaku. Janganlah marah-Mu menimpaku.
Kecamlah daku sampai Engkau ridha. Tidak ada daya dan kekuatan kecuali
melalui-Mu.”
***
Ibrahim bin Adham bercerita bahwa ia pernah didatangi seorang
laki-laki yang berkata kepadanya: “Wahai Abu Ishak (Ibrahim bin Adham)!
Saya seorang yang banyak berdosa, seorang yang dzalim. Sudikah kiranya
Tuan mengajari saya hidup zuhud, agar Alloh menerangi jalan hidup saya
dan melembutkan hati saya yang kesat ini.”
Ibrahim bin Adham menjawab, “Kalau kau dapat memegang teguh enam perkara berikut ini, niscaya engkau akan selamat.”
“Apa itu?” Tanyanya.
“Pertama, bila engkau bermaksiat, janganlah engkau memakan rizki Alloh.”
“Jika di seluruh penjuru bumi ini, baik di barat maupun di timur,
didarat maupun di laut, di kebun dan di gunung-gunung, ada rizki Alloh,
maka dari mana aku makan?”
“Wahai Saudaraku, pantaskah engkau memakan rizki Alloh, sementara engkau melanggar peraturan-Nya?”
“ Tidak, demi Alloh! Lalu, apa yang kedua?”
“Kedua, bila engkau bermaksiat kepada Alloh, janganlah engkau tinggal di negeri-Nya!”
Lelaki itu menukas, “Tuan Ibrahim, demi Alloh yang kedua ini lebih
berat.bukankah bumi ini milik-Nya? Kalau demikian halnya, dimana aku
harus tinggal?”
“Patutkah engkau makan rizki Alloh dan tinggal di bumi-Nya padahal engkau melakukan maksiat kepada-Nya?”
“Tidak, Tuan Guru!”
“Ketiga, jika engkau hendak berbuat maksiat, janganlah engkau lupakan
Alloh yang Maha Melihat dan beranggapanlah bahwa Dia lalai kepadamu!”
“Tuan Guru, bagaimana mungkin bisa begitu, padahal Alloh Maha Mengetahui segala rahasia dan melihat setiap hati nurani.”
“Layakkah engkau menikmati rizki-Nya, tinggal di bumi-Nya dan maksiat kepada-Nya sedangkan Alloh melihat dan mengawasimu?”
“Tentu saja tidak, wahai Tuan Guru.Lantas apa yang keempat?”
“Apabila datang kepadamu malaikat maut, hendak mencabut nyawamu, maka
katakan kepada malaikat itu, tunggulah dulu, aku akan bertobat.”
Lelaki itu menjawab, “Tuan Guru, itu tidak mungkin dan ia tak mungkin mengabulkan permintaanku.”
Ibrahim bertutur, “Kalau engkau sadar bahwa engkau tak mungkin mampu
menolak keinginannya, maka tentu ia akan datang kepadamu kapan saja,
mungkin sebelum engkau bertobat.”
“Benar ucapan Guru! Sekarang apa yang kelima?”
“Kelima, bilamana datang mungkar dan Nakir kepadamu, lawanlah kedua malaikat itu d engan seluruh kekuatanmu, bila kau mampu.”
“Itu tidak mungkin, mustahil Tuan Guru.”
Ibrahim bin Adham kemudian melanjutkan, ” Keenam, bila esok engkau
berada di sisi Alloh SWT, dan Alloh menyuruhmu masuk neraka, katakanlah:
Ya Alloh, aku tidak bersedia.”
“Wahai Tuan Guru, cukuplah. Cukuplah nasihatmu!” Jawab lelaki itu, dan iapun pergi.

Seorang wanita berhati mulia, pemimping para ibu. Seorang ibu yang
telah menganugerahkan anak tunggal yang mulia pembawa hidayah. Dialah
Aminah biti Wahab. Ibu dari Muhammad bin Abdullah yang diutus Allah
sebagai rahmat seluruh alam. Cukuplah baginya kemuliaan dan kebangggaan
yang tidak dapat dipungkiri, bahwa Allah azza wa jalla memilihnya
sebagai ibu seorang rasul mulia dan nabi yang terakhir.
Berkatalah Muhammad puteranya tentang nasabnya. ” Allah telah memilih
aku dari Kinanah, dan memilih Kinanah dari suku Quraisy bangsa Arab.
Aku berasal dari keturunan orang-orang yang baik, dari orang-orang yang
baik, dari orang-orang yang baik.” Dengarlah sabdanya lagi, “Allah
memindahkan aku dari sulbi-sulbi yang baik ke rahim-rahim yang suci
secara terpilih dan terdidik. Tiadalah bercabang dua, melainkan aku di
bagian yang terbaik.”
Aminah bukan cuma ibu seorang rasul atau nabi, tetapi juga wanita
pengukir sejarah. Kerana risalah yang dibawa putera tunggalnya sempurna,
benar dan kekal sepanjang zaman. Suatu risalah yang bermaslahat bagi
ummat manusia. Berkatalah Ibnu Ishaq tentang Aminah bt Wahab ini. “Pada
waktu itu ia merupakan gadis yang termulia nasab dan kedudukannya di
kalangan suku Quraisy.”
Menurut penilaian Dari. Bint Syaati tentang Aminah ibu Muhammad
yaitu. “Masa kecilnya dimulai dari lingkungan paling mulia, dan asal
keturunannya pun paling baik. Ia memiliki kebaikan nasab dan ketinggian
asal keturunan yang dibanggakan dalam masyarakat aristokrasi yang sangat
membanggakan kemuliaan nenek moyang dan keturunannya.”
Aminah merupakan bunga yang indah di kalangan Quraisy serta menjadi
puteri dari pemimpin bani Zuhrah. Pergaulannya senantiasa dalam
penjagaan dan tertutup dari pandangan mata. Terlindung dari pergaulan
bebas sehingga sukar untuk dapat mengetahui jelas penampilannya atau
gambaran fisiknya. Para sejarawan hampir tidak mengetahui kehidupannya
kecuali sebagai gadis Quraisy yang paling mulia nasab dan kedudukannnya
di kalangan Quraisy.
Meski tersembunyi, baunya yang harum semerbak keluar dari rumah bani
Zuhrah dan menyebar ke segala penjuru Makkah. Bau harumnya membangkitkan
harapan mulia dalam jiwa para pemudanya yang menjauhi wanita-wanita
lain yang terpandang dan dibicarakan orang.
Allah memilih Aminah “Si Bunga Quraisy” sebagai isteri Abdullah bin
Abdul Muthalib di antara gadis lain yang cantik dan suci. Banyak gadis
yang meminang Abdullah sebagai suaminya seperti Ruqaiyah bt Naufal,
Fatimah bt Murr, Laila al Adawiyah, dan masih banyak wanita lain yang
telah meminang Abdullah.
Ibnu Ishaq menuturkan tentang Abdul Muthalib yang membimbing tangan
Abdullah anaknya setelah menebusnya dari penyembelihan. Lalu membawanya
kpd Wahab bin Abdu Manah bin Zuhrah – yang waktu itu sebagai pemimpin
bani Zuhrah – utk dikawinkan dgn Aminah.
Abdullah adalah pemuda paling tampan di Makkah. Paling memukau dan
paling terkenal di Makkah. Tak heran, jika ketika ia meminang Aminah,
banyak wanita Makkah yang patah hati.
Cahaya yang semula memancar di dahi Abdullah kini berpindah ke
Aminah, padahal cahaya itulah yang membuat wanita-wanita Quraisy rela
menawarkan diri sebagai calon isteri Abdullah. Setelah berhasil
mengawini Aminah, Abdullah pernah bertanya kpd Ruqaiyah mengapa tidak
menawarkan diri lagi sebagai isterinya.Jawab Ruqaiyah, ” Cahaya yang ada
padamu dulu telah meninggalkanmu, dan kini aku tidak memerlukanmu
lagi.”
Fatimah bi Murr yang ditanyai juga berkata, ” Hai Abdullah, aku bukan
seorang wanita jahat, tetapi kulihat aku melihat cahaya di wajahmu, krn
itu aku ingin memilikimu. Namun Allah tak mengizinkan kecuali
memberikannnya kpd orang yang dikehendakiNya.” Jawaban serupa juga
disampaikan oleh Laila al Adawiyah. “Dulu aku melihat cahaya bersinar di
antara kedua matamu krn itu aku mengharapkanmu. Namun engkau menolak.
Kini engkau telah mengawini Aminah, dan chaya itu telah lenyap darimu.”
Memang “cahaya” itu telah berpindah dari Abdullah kpd Aminah. Cahaya ini
setelah berpindah-pindah dari sulbi-sulbi dan rahim-rahim lalu menetap
pd Aminah yang melahirkan Nabi Muhammad SAW. Bagi Muhammad merupakan
hasil dari doa Ibrahim bapanya. Kelahirannya sebagai khabar gembira dari
Isa saudaranya, dan merupakan hasil mimpi dari Aminah ibunya. Aminah
pernah bermimpi seakan-akan sebuah cahaya keluar darinya menyinari
istana-istana Syam. Dari suara ghaib itu mendengar, “Engkau sedang
mengandung pemimpin ummat.”
Allah telah mengabulkan doa Ibrahim as seperti disebutkan dalam surah
al Baqarah ayat 129 “Ya Tuhan kami. Utuslah bagi mereka seorang rasul
dari kalangan mereka.” Dan terwujudlah kabar gembira dari Isa as.
seperti tersebut dalam surah as Shaff ayat 6 “Dan memberi khabar gembira
dgn (datangnya) seorang rasul yang akan datang sesudahku, namanya Ahmad
(Muhammad).” Benar pulalah tentang ramalan mimpi Aminah tentang cahaya
yang keluar dari dirinya yang menerangi istana-istana Syam itu.

Umar bin Khatab terkenal sebagai khalifah yang suka berjalan di
tengah malam untuk mengontrol keadaan rakyatnya. Di suatu malam, Umar
mendengar suara seorang laki-laki dalam sebuah rumah yang sedang tertawa
asyik ditingkahi gelegak tawa wanita.
Umar mengintip, lalu memanjat jendela dan masuk ke rumah tersebut
seraya menghardik, “hai hamba Allah! apakah kamu mengira Allah akan
menutup aibmu padahal kamu berbuat maksiat!!!”
Orang tua itu menjawab dengan tenang, “Jangan terburu-buru ya Umar,
saya boleh jadi melakukan satu kesalahan tapi anda telah melakukan tiga
kesalahan. Pertama, Allah berfirman, Wa la tajassasu…”jangan kamu (mengintip) mencari-cari kesalahan orang lain” (al-Hujurat: 12).
Wa qad tajassasta (dan Anda telah melakukan tajasus).
Kedua, “Masuklah ke rumah-rumah dari pintunya” (Al-Baqarah 189) dan Anda sudah menyelinap masuk.
Ketiga, anda sudah masuk rumah tanpa izin, sedangkan Allah telah berfirman, “Janganlah kamu masuk ke rumah yang bukan rumahmu sebelum kamu meminta izin…” (An-Nur 27)
Umar berkata, “apakah lebih baik disisimu kalau aku memaafkanmu?”
Lelaki tersebut menjawab, “ya”. Lalu Umar pun memaafkannya dan pergi
dari rumah tersebut.
Sekarang tengoklah tingkah laku kita. Bukankah Kita lebih suka
mencari kesalahan saudara kita. Bila kita tak jumpai rekan kita di
pengajian, kita tuduh dia sebagai orang yang melalaikan diri dari
mengingat Allah. Ketika kali kedua, kita tak menemui saudara kita saat
sholat jum’at, kita cap dia sebagai orang yang lebih mementingkan urusan
dunia daripada urusan akherat. Ketika kali ketiga kita lihat dia duduk
bersenda gurau dengan lawan jenisnya, mulai kita berpikir bahwa saudara
kita tersebut telah terkunci mata hatinya.
Dengan tuduhan dan prasangka seperti itu, boleh jadi kita telah
melakukan beberapa kali kesalahan yang lebih banyak dibanding saudara
kita tersebut. Mari kita tanamkan sifat Khusnudhon (berprasangka baik)
kepada orang lain.